Select Menu

Kabar Ciracas

PKS Indonesia

PKS Unik

Qiyadah

Parenting

Pemuda

Agenda

Suara Kader

Video







DPC PKS CIRACAS - Melihat anak menjadi pintar dengan nilai prestasi tinggi merupakan hal yang mengembirakan bagi kebanyakan orangtua. Para orangtua yang menginginkan hal tersebut berlomba memasukan anak mereka ketempat les usai pulang sekolah sejak usia dini. Bagus, tapi coba kita perhatikan pesan singkat pakar pendidikan islam,imam Alghazali betikut ini.
Al Ghazali mengatakan, “Usai keluar dari sekolah, anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang sesuai pada usianya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus, akan menjenuhkan pikirannya,memadamkan kecerdasannya, dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara"
Yang setuju dengan pesan singkat ini silakan klik jempol dan share.

Penulis : Firman Fajar






DPC PKS CIRACAS - Tadi malam akhirnya saya berkesempatan menonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto bersama istri dan beberapa konco. Sejak karya besutan Garin Nugroho ini ramai digunjingkan, saya memang mengazzamkan diri untuk menyaksikannya. Bukan untuk mengkritisinya, karena sehebat apapun manusia pasti hasil buatannya tak sempurna, meski itu Garin sekalipun, sutradara bercita rasa Piala Citra. Saya justru penasaran dengan kabar soal kentalnya warna Islam, sesuatu yang mengejutkan mengingat berita seliweran di dunia maya soal Garin yang katanya berideologi liberal. Dan saya mendapatkan jawabannya dari komentar istri yang duduk di sebelah saya ketika film baru tayang kurang dari seperempat durasi.
“Ayah, kok beda ya?” tanya istri.
“Apanya yang beda?” saya balik bertanya.
“Enggak seperti yang kita pelajari saat sekolah. Waktu kita SD, SMP terus SMA kayaknya Sarikat Islam (SI) itu identik dengan komunis. Tjokroaminoto itu orang kiri,” ujar istri sambil matanya terus menatap layar besar dihadapannya yang menampilkan adegan Tjokro berkali-kali mengucap kata hijrah.
Istri saya benar. Dan saya begitu yakin ada jutaan orang yang memiliki pemahaman sejarah seperti istri saya. Bahwa Sarikat Islam cikal bakal komunis. Bahwa SI hanya melahirkan tokoh-tokoh kiri semacam Muso dan Semaoen. Bahwa Tjokro adalah bapak pendukung sosialisme dan komunisme di Tanah Air.
Ya, penulisan sejarah Tjokroaminoto dengan SI nya memang berkutat seputar sosialisme dan komunisme. Jika kita mau rajin membuka buku-buku sejarah, sangat mudah menemukan tulisan yang mengaitkan Tjokro dengan kedua isme di atas. Atau cobalah cari di google, maka kata sosialisme selalu ada di setiap pencarian tentang sosok Tjokro.
Misalkan tulisan Sastrawan dan filsuf yang kerap menulis tentang Islam dan pluralisme yakni Abdul Hadi W. M. Di situs  www.serbasejarah.wordpress.com, dalam artikelnya yang berjudul Islam, Sosialisme dan Persoalan Marxiisme di Indonesia, ia tanpa ragu menulis bahwa sosialisme religius telah dianjurkan sejak awal abad ke-20 oleh tokoh-tokoh seperti Tjokroaminoto pada tahun 1905 (bukunya Islam dan Sosialisme). Kata Hadi,  Tjokroaminoto memandang sistem kapitalisme yang dibawa oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia merupakan bentuk dari “Kapitalisme Murtad”, sekali pun sistem ini menurut Max Weber lahir dari buaian agama Protestan, yaitu madzab Calvinis.
“Kirinya” Tjokro tak tergambar di filmnya. Kita justru menemukan sebuah narasi baru yang sama sekali tak muncul di teks-teks sejarah. Narasi yang selama ini seperti disembunyikan. Narasi itu adalah hijrah dan iqro. Khusus kata hijrah, berkali-kali muncul dalam film: di awal, pertengahan hingga akhir.
“Hijrah...kemana engkau akan membawaku?” Tanya Tjokro (Reza Rahadian) di adegan pembuka.
“Kalau hijrah satu-satunya jalan, maka aku akan hijrah,” ucap Tjokro kepada istrinya Soeharsikin (Putri Ayunda).
Berkali-kali Tjokro memang berhijrah untuk menuntaskan kegelisahannya melihat penindasan penjajah Belanda kepada pribumi.Setelah menjadi pegawai perkebunan, ia pindah ke Semarang untuk menemukan makna hijrah seperti apa yang akan diwujudkan bangsa ini. Lalu ia pindah lagi ke Surabaya dan bekerja pada surat kabar. Sementara istrinya membuat batik sekaligus mengurusi rumahnya yang dijadikan kos-kosan. Rumah Paneleh, nama kos-kosan tersebut, dihuni oleh pemuda-pemuda yang kelak menjadi tokoh-tokoh berpengaruh seperti Agus Salim (Ibnu Jamil), Semaoen (Tanta Ginting), dan Soekarno (Deva Mahenra). Di sinilah Tjokro mendirikan Sarekat Islam dan menjadikannya sebuah organisasi besar.
Kentalnya nilai Islam kian terasa saat tembang Lir Ilir dinyanyikan. Menariknya, running text yang ditampilkan berisikan makna dari syair lagu tersebut. Nuansa pergerakan Islamnya makin menguat.
Lir ilir, lir ilir. Tandure wis sumilir
Bangun, bangunlah (dari keterpurukan). Saatnya telah tiba

Tak ijo royo-royo tak sengguh kemanten anyar
Panji Islam mulai berkembang, menarik hati semua orang

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi
Wahai para pemuda, amalkan Islam dengan benar

Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodo iro
Meski berat perjuangan, tetaplah terus berbuat (amal), untuk menyucikan jiwamu

Dodotiro, dodotiro kumitir bedahing pinggir
Saat pakaian (akhlakmu) terkoyak

Domdomona jlumatono kanggo sebo mengko sore
Perbaikilah, sempurnakanlah (Islammu), demi masa depan (akhirat)

Mumpung gede rembulane, mumpung jembar kalangane
Senyampang usiamu masih muda, selagi masih ada kesempatan

Yo sorak ooooo, sorak hiyooo
Hingga kita temui kebahagiaan
Pemaknaan syair Lir Ilir ini seakan ingin menguatkan pesan film ini tentang hijrah yang harus dilandasi dengan nilai-nilai keislaman yang kokoh. Dan Garin sepertinya ingin para penonton menangkap ruh film ini dengan memberikan dialog Tjokro dan Agus Salim jelang akhir film.
“Dan Aku Agus Salim akan berhijrah bersama Tjokroaminoto.”
Lalu diikuti kalimat hijrah terakhir Tjokro di film ini:
“Satu-satunya cara berhijrah adalah dengan setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat dan semurni-murni tauhid.”
Akhirnya, saya harus mengatakan bahwa film ini layak ditonton. Karena ini bukan sekadar film sejarah yang mengobati kerinduan akan hadirnya sosok-sosok pemimpin sekelas Tjokro di masa kini, tapi lebih dari itu. Garin melalui filmnya ini akan membuat persepsi sejarah kita “hijrah”: dari yang semula mengidentikkan Tjokro dengan sosialisme menjadi Tjokro yang Islamis. Persis seperti yang dialami istri saya saat menyaksikan film ini di bioskop tadi malam.

Penulis : Erwyn Kurniawan














DPC PKS CIRACAS - Rapat DPR - MPR mendadak pindah, rapat kali ini membahas tugas utama presiden dan yang lainnya. Hujan interupsi meramaikan jalannya rapat. Meski banyak interupsi rapat dewan terhomat tersebut berjalan dengan lancar.
Keunikan rapat kali ini sangat terlihat. Biasanya para peserta rapat memakai pakaian rapih,berjas dan berdasi. Dirapat kali ini mereka memakai baju biasa,ada juga yang pakai daster, mungkin biar disebut sebagai rapat pro rakyat. Dirapat inipun tidak ada bangku, mereka semua berdiri. Diruang rapat ini tidak ada meja dengan pengeras suara.
"tugas presiden sekarang nambah ya ?" ucap salah seorang anggota rapat. "nambah apa bu ?" tanya anggota lainnya. "tugas utamanya..naikin sama nurunin harga bbm" jawab singkat anggota rapat tersebut yang langsung disetujui oleh seluruh anggota rapat "iya,ya..bbm naik turun harganya, negara kita lagi kacau ya, si ahok juga tu,kayak orang gak punya agama aja..." ucap anggota rapat dengan emosi. "emang kenapa si ahok ? kitakan lagi bahas bbm" interupsi anggota yang lain menanyakan perihal ahok.
"lah, ibu gak tau kalo si ahok mau bikin lokalisasi pelacur,terus mereka mau dikasih sertifikat sama si ahok..gila gak itu ?" jawabnya dengan berapi - api. "seharusnya ahok belajar sama walikota surabaya atau bandung bagaimana menangani prostitusi ". Saat rapat penuh dengan hujan interupsi salah satu anggota rapat melakukan Walk Out ( keluar dari rapat). "maaf,ibu - ibu saya pamit duluan". " loh, mau kemana bu ?" tanya salah seorang anggota rapat. "saya mau masak dulu udah siang,kitakan anggota DPR - MPR, dari pasar masuk dapur,he,he,he....bu sayur berapa jadinya belanjaan saya semuanya ? jawab ibu tersebut menjelaskan sambil menyerahkan belanjaannya ke ibu tukang sayur.
Tanpa ketukkan palu rapat berakhir dengan walk out satu persatu anggota DPR - MPR tersebut, Anggota DariPasaR Masuk daPuR.
3 Mei 2015 I Firman Fajar







Keterangan : Foto ilustrasi kegiatan kader PKS

DPC PKS CIRACAS - Aku amati pria dan wanita yang berada didekat rumah. Mereka sibuk sekali setiap pekan pergi dengan kendaraan roda duanya. Hilir mudik seperti tukang sayur keliling. Entah apa yang mereka cari seharian hanya cuap-cuap berkata-kata seperti sales yang meyakinkan para pembelinya. Hal itu mengusik batinku, sedari kemaren mereka berdua saja yang sibuk tak henti sampaikan selebaran dirumah warga, memeriksakan kesehatan warga, dan kadang ikut tahlilan bersama.

Aku yang mulai risih menatap setiap aktivitas itu bertanya pada mereka. Kalian siapa sebenarnya? setiap pekan mondar-mandir bagaikan tukang obat bicara tanpa henti sambil berikan pelayanan kesehatan, dan menyelipkan selebaran kertas yang bernada ajakan itu. Isinya ajakan menjaga kesehatan dengan logo bulan sabit dan padi yang nongol di atas kertas itu.

Mataku menatap lamat-lamat pakaian mereka yang menutup aurat suami istri. Kompak sekali rasanya setiap pekan habiskan waktu demi hal yang mungkin sepele seperti ini, padahal istrinya dokter, dan suaminya pengusaha. Aku coba bertanya lagi, pak dimana teman-teman bapak yang lain? maksudnya kader partai itu. Hmm... dia cuma bilang, saya dan keluarga akan terus bergerak demi kebaikan. Tanpa menunggu arahan atau instruksi yang ada dari pimpinan. Disini kami diajarkan mandiri untuk menyediakan waktu luang dengan pengajian pekanan dan melakukan aksi nyata dari apa yang kami dapatkan dari pembahasan di pengajian itu.

Ia juga bilang soal teman kami sibuk, biarkan saja yang terpenting memulai dari sendiri adalah hal yang amat menyulitkan. Apalagi kebaikan, belum tentu teman kami tidak datang membantu mereka tidak melakukan hal yang sama atau bahkan mereka melakukan hal yang lebih mulia dari apa yang kami lakukan.  Biarlah Allah yang menyaksikan, mendengar niat kami bukanlah untuk dijadikan sekedar tontonan, semoga justru menjadi cambuk agar dakwah bukan karena sekedar taklimat pesan dari pimpinan tetapi dakwah harus terus berjalan hingga kelelahan menyertai dan menghinggapi hingga pertemuan indah dengan Tuhan, Allah Swt. Kami bangga dipertemukan dijalan dakwah bukan untuk dikenal karena jabatan tetapi karena berada dijamaah ini kami belajar keindahan ialah saat berbagi pada orang-orang yang kekurangan.



Jakarta, 8 Mei 2015 I @kanggilang03










DPC PKS  CRACAS - PKS DPRa Ciracas sebagai partai yang banyak mengkampanyekan hal-hal sosial yang selalu masyarakat butuhkan. Kali ini menindaklanjuti kebutuhan masyarakat di kelurahan Ciracas yang semakin sulit menemukan seorang relawan yang siap memandikan jenazah dan mengkafan jenazah.

Ini menjadi penting bagi PKS karena jika kita tidak memandikan, mengkafani, menguburkan jenazah, maka yang berdosa bukanlah keluarganya melainkan umat Islam. Untuk itu kemaren ahad 26 April 2015 bertempat di Masjid Green Life, DPRa PKS Ciracas mengadakan Dauroh Janaiz yang menjadi salah satu program bidpuan DPRa Ciracas.

Hampir satu jam telah dari undangan yang diterima, akhirnya tepat pukul 11.15 WIB acara dibuka oleh akhuna Marno dan tilawah oleh akhuna Rizal. Minimnya peserta Dauroh Janaiz, tidak membuat surut nara sumber Ustadz Muhammad Ridwan untuk memberikan ilmunya, baik teori maupun praktek. 

Dalam acara yang dikhususkan untuk kaum ibu ini, dihadiri oleh berbagai ibu-ibu dari majelis taklim, serta para simpatisan PKS. Ustadzah Nancy selaku pengisi materi acara tersebut menjelaskan betapa pentingnya seorang muslim mengetahui apa-apa saja yang seharusnya dilakukan saat mendapati saudara muslimnya yang sedang sakaratul maut maupun praktek memandikan dan mengkafani jenazah.





Ustadz Nancy, memberitahukan alat–alat yang harus ada ketika memandikan jenazah yakni: Tempat pemandian jenazah; 2 buah baskom atau semacamnya; 1 atau 2 buah bak air diisi dengan air mutlak; Baskom 1 diisi dengan air bidara atau kembang wangi (tidak mutlak); Baskom 2 diisi dengan air kapur barus; Sediakan sarung tangan 2 atau 3 helai; Masker; Sediakan kain untuk menutup mayat saat dimandikan berukuran sekadar menutup aurat mayat, sebaiknya berwarna gelap atau kain batik; Tanah debu untuk tayamum bagi mayat kanak-kanak yang belum berkhitan atau orang dewasa dan untuk mayat yang uzur; Sabun; Kapur barus; Cottonbud; Daun bidara atau kembang wangi; Tempat mayat itu hendaklah di bilik yang tertutup supaya jangan dilihat orang yang tidak berkepentingan; Sebaik-baiknya letakkan mayat di tempat yang tinggi; Selang dengan air mengalir; Gayung.

Lebih lanjut beliau juga menjelaskan siapa saja yang boleh memandikan jenazah yaitu: Orang Islam; Merdeka; Bukan pembunuh mayat; Dewasa; Bukan musuh si mayat; Orang yang jujur dan amanah (yang tidak akan menceritakan keburukan mayat); Bukan orang yang fasik; Orang yang ahli atau mengetahui mandi mayat. Serta adab terhadap jenazah bagi orang yang memandikan jenazah yakni Jangan sekali-kali menceritakan hal keburukan tubuh mayat tetapi sebaliknya disunahkan menceritakan kebaikan si mayat itu kepada keluarganya.

Setelah mempraktekkan dan menjelaskan cara memandikan jenazah, ustadz Muhammad Ridwan pun memberitahukan bahan yang harus disiapkan untuk mengkafani mayat, yaitu : Kain kafan ukuran min 4x panjang tubuh jenazah; Kapas 2 gulung; Air mawar 1 botol; Cendana secukupnya; Kapur barus; Gunting; Jika ada tikar boleh untuk alas.

Kegiatan ini akan terus berlanjut selama masyarakat membutuhkan , karena hal seperti amat sangat penting. Inilah hal yang akan terus PKS tingkatkan dan ini merupakan bentuk pelayanan yang sangat berguna dan bermanfaat dimasyarakat.(gnr)

Ket: Foto diambil oleh Bidpuan DPRa PKS Ciracas







DPC PKS CIRACAS - Tangan ini saling berhimpun, saling menggenggam dalam ikatan. Dimana semangat yang kuat melalui gerak tubuh akan diekspresikan. Setiap Kaki telanjang dan bola sepak memang adalah bola benda ajaib yang menyatukan, kaki adalah anggota tubuh yang saling berbicara berkomunikasi dalam bermain, kataku. Dimana lagi mesti dicari orang - orang yang katanya kurang kerjaan, satu bola diperebutkan, segerombolan orang.

Permainan yang membutuhkan totalitas dalam meraih kemenangan.Tetapi cobalah lihat baik-baik mereka sedang belajar arti kebersamaan. Dimanapun berada manusia tak bisa sendirian. Sendirian hanya akan memunculkan prasangka buruk kepada Tuhan. Walaupun sepak bola hanya permainan, akan tetapi ia mengajarkan suatu hal bernama kerja sama, agar kita mulai rapatkan barisan. Saling bahu membahu menutupi kekosongan. Pertandingan ada untuk memperlihatkan kebersamaan atau keegoisan yang menguasainya di lapangan.

Kader sejati parta yang militan, bukan namanya tertera tapi tak ada saat masyarakat membutuhkan. Kader sejati hadir bukan karena jenjang dibahu yang disematkan. Ia tampak sederhana, tetapi kontribusi luar biasa. Adanya kegiatan untuk membuat kader peka arti kebersamaan untuk meraih kemenangan. Peka juga arti kemenangan bukan terletak pada sebuah obsesi jabatan, tetapi sebuah nilai partai ini organisasi yang penuh kebermanfaatan. Sekarang carilah jawaban untuk segera aktif dalam segala kegiatan. Bukan sekedar dikatakan kader, lalu hadir acara akbar kepartaian, kita ada untuk sebuah misi kemanusiaan. Bekerja agar indonesia meraih kesejahteraan, bukankah itu yang kita cita-citakan? karena itulah jawaban untuk menuju kebahagiaan yang tak mungkin dilakukan sendirian. Teruslah tingkatkan pelayanan kepada siapapun masyarakat yang membutukan tanpa melihat suku, ras, dan agama , semoga milad #PKSWEET17 meraih keberkahan dan mencapai tujuan yang dicita-citakan.(Gilang)

Sumber : Media DPC PKS CIRACAS