Select Menu

Kabar Ciracas

PKS Indonesia

PKS Unik

Qiyadah

Parenting

Pemuda

Agenda

Suara Kader

Video









DPC PKS CIRACAS -
 JAKARTA (30/3) Wacana pemblokiran situ-situs online media Islam oleh pemerintah di media sosial menyeruak sepanjang hari ini. Pemblokiran tersebut dikabarkan atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait penyebaran paham Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS). 

Anggota Komisi I DPR Ahmad Zainuddin menegaskan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) harus menjelaskan hal ini agar tidak terjadi kegaduhan di masyarakat. Pasalnya, media-media Islam yang disebutkan telah diberlakukan pemblokiran justru selama ini menentang paham radikalisme ISIS. 

"Sampai saat ini tidak ada penjelasan resmi dari Menkominfo. Tapi tiba-tiba saja menyeruak di masyarakat. Maksudnya apa, apakah operasi, atau apa. Pemerintah sebaiknya terbuka saja. Jangan tiba-tiba saja dan diam-diam. Pemerintah harus jelaskan," ujar Zainuddin di Jakarta, Senin (30/3/2015). 

Komisi I DPR, menurut Zainuddin, mendukung upaya pemerintah dalam melakukan upaya-upaya mencegah penyebaran paham ISIS. Sebagaimana ormas-ormas Islam dan juga media-media Islam resmi di Indonesia, lanjut dia, menolak cara-cara kekerasan yang dilakukan ISIS atas nama Islam. 

Namun dengan melakukan pemblokiran secara diam-diam dan tertutup, Zainuddin menegaskan, sama dengan membredel kebebasan pers. Kebebasan pers dijamin dalam UU No 40 tahun 1999 ayat 1 yang berbunyi'Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara'; ayat 2 'Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran'; dan ayat 3 yang berbunyi 'Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.'

"Kita mencoba menegakkan demokrasi dan menolak radikalisme agama. Tapi dengen membredel media, itu membunuh kebebasan pers yang menjadi pilar demokrasi," tegasnya. 

Ketua DPP PKS ini juga mengatakan, pemerintah dan penegak hukum sebaiknya lebih erat lagi bekerjasama dengan unsur-unsur umat Islam, termasuk di dalamnya media Islam, dalam mencegah paham ISIS, dan bukan sebaliknya. Apalagi ada Dewan Pers yang menaungi kode etik media nasional, menurut Zainuddin, Menkominfo juga harus melibatkan Dewan Pers. 

"Tidak hanya menerima permintaan begitu saja dari BNPT. Menkominfo juga harus berdialog dengan tokoh-tokoh Islam soal situs-situs yang dianggap radikal menurut definisi BNPT. Bagaimana penanganannya yang adil," ucapnya. 

Zainuddin juga mengatakan kesewenangan seperti yang dilakukan BNPT maupun Kemenkominfo dikhawatirkan menimbulkan antipati dari anak bangsa terhadap pemerintah.

"Pemerintah baik BNPT dan Kemenkominfo perlu memiliki standar yang jelas tentang situs Islam yang harus diblokir dan perlu membuka dialog dengan pengelola situs-situs tersebut," imbuh politisi yang juga anggota pengawas TKI dari DPR ini. 

Sebuah surat perintah untuk memblokir laman internet yang diduga mendukung ISIS beredar di dunia maya. Pemblokiran dilakukan Direktorat Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo).

Dalam surat tersebut, terdapat 19 laman internet yang diblokir karena diduga menyebar paham dan ajaran radikalisme. Laman tersebut antara lain arrahmah.comvoaislam.comghur4ba.blogspot.companjimas.comthoriquna.comdakwatuna.comkafilahmujahid.coman-najah.netmuslimdaily.nethidayatullah.comsalamonline.com,aqlislamiccenter.comkiblat.netdakwahmedia.commuqawamah.comlasdipo.comgemaislam.comeramuslim.com, dan daulahislam.com.

Situs tersebut dilaporkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Menurut BNPT, seluruh laman tersebut merupakan penggerak dan simpatisan radikalisme

Sumber : Fraksi PKS







DPC PKS CIRACAS -
 JAKARTA (23/3) Mantan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Kuan Yew meninggal dunia dini hari tadi (Senin, 23/3). Anggota Komisi I DPR Ahmad Zainuddin mengucapkan belasungkawa atas berpulangnya Bapak Pendiri Singapura modern tersebut.
"Wafatnya Lee Kuan Yew tentu menjadi duka mendalam bukan hanya bagi warga Singapura, tapi juga masyarakat ASEAN. Kita berduka cita atas meninggalnya Lee Kuan Yew," ujar Zainuddin di Jakarta, Senin (23/3).
Menurut Zainuddin, Lee Kuan Yew sangat berperan besar dalam pembangunan di ASEAN. Lee Kuan Yew, lanjut Zainuddin, berhasil membawa Singapura dari negara berkembang menjadi salah satu negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, baik di kawasan maupun dunia. Singapura menjelma menjadi negara kaya dengan pendapatan per kapita yang melampaui Indonesia dan Malaysia.
Menurut Bank Dunia, pendapatan per kapita Singapura pada tahun 2012 sudah mencapai USD 57.238. Sementara Indonesia USD 4.380. Pada tahun 2014, rata-rata pendapatan per kapita warga Singapura mencapai USD 48.595 per orang per tahun. Jumlah ini 13 kali lipat lebih besar dari pendapatan per kapita warga Indonesia USD 3.452.
"Kemajuan dan pembangunan ekonomi di Singapura menjadi salah satu faktor penopang ekonomi ASEAN. Apalagi menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN," ucap politisi dari Dapil DKI I ini.
Karena itu menurut Zainuddin, Indonesia saat ini perlu belajar dari kemajuan Singapura. Sebagai negara kota (city state), Singapura berhasil menjawab keraguan dunia soal kemampuannya membangun dan maju dengan minim sumber daya alam dan terbatasnya jumlah penduduk. Sejarah Singapura menunjukkan mental bangsa yang baik mampu menjadikan sebuah negara bangkit dari keterpurukan.
Zainuddin juga menyinggung persahabatan Lee Kuan Yew dengan Presiden Soekarno dan Soeharto kala itu, yang menjadikan hubungan bilateral Indonesia dan Singapura selalu hangat dan posisi kedua negara menjadi aktor penting di kawasan, terutama ASEAN. Lee Kuan Yew, kata Zainuddin, sangat menghormati Indonesia.
Politisi PKS ini berharap hubungan Indonesia dengan Singapura di bawah Lee Hsien Loong saat ini, yang merupakan putra kandung dari Lee Kuan Yew, semakin baik dan meningkat dalam segala bidang. Beberapa kerjasama Indonesia dan Singapura sampai saat ini mengalami kebuntuan, seperti kerjasama ekstradisi, dan pengembalian wilayah udara RI oleh Singapura di atas perairan Kepulauan Riau, dapat segera tercapai kesepakatan. 
Sumber : pks.or.id








DPC PKS CIRACASSebagian Muslimin ada yang memahami agama Islam adalah agama yang membenci tawa, canda dan hiburan, ajaran Islam mengharuskan penganutnya senantiasa bersikap ‘serius’ dan ‘kaku’ dalam setiap kondisi. Pemahaman ini terbentuk karena beberapa faktor diantaranya fenomena sikap sebagian orang-orang yang menganggap dirinya ‘agamis’, sikap kasar dan ‘kaku’ dalam bersikap, berkatadan berinteraksi. Faktor lain, karena keliru memahami beberapa nash Al-Qur’an dan hadits,misalnya keliru memahami hadits Rasul saw: ‘jangan memperbanyak tawa, karena banyak tawa itu bisa mematikan hati’. (HR. Ahmad).Hadits lain misalnya: ‘celaka bagi orang yang bercerita agar manusia tertawa maka ia berdusta, celaka baginya, celaka baginya”. (HR. Ahmad).Apa yang dilarang Rasul dalam hadits tersebut adalah tawa yang berlebihan dan guyonan dusta.

Kebutuhan manusia
Tertawa adalah kekhususuan sifat manusia. Hewan tidak bisa tertawa, karena tawa adalah respon dari satu bentuk pemahaman terhadap perkataan, gambar atau sikap yang dilihat atau didengar yang menyebabkan tawa.

Islam sebagai agama fitrah tidak mencerabut kecenderungan manusia terhadap canda, rehat dan tawa, Islam menyambut segala perkara yang bisa menjadikan hidup terasa indah, dan menginginkan agar seorang Muslim memiliki rasa optimis dan indah, dan tidak menyukai seorang Muslim berkarakter pesimis dan negatif yang selalu melihat manusia dan kondisi di sekitarnya dengan pandangan hitam dan negatif.

Kabutuhan manusia terhadap canda adalah kebutuhan fitrahnya. Jika dikatakan bahwa hukum dasar canda dan tawa itu tercela, maka Imam Ghazali pernah menjawab pernyataan serupa dengan: “Tetapi Dunia itu seluruhnya canda dan main-main, dan bersenang-senang dengan istri juga termasuk canda kecuali al-hiratsah (menggauli istri) sebagai sebab lahirnya keturunan, begitu juga canda yang tidak mengandung keji hukumnya halal, hal tersebut juga disampaikan Rasulullah dan para Sahabatnya.

Canda dan hiburan bisa membuat hati rehat, meringankan beban pikiran, dan tabiat hati jika lelah bisa membuta. Mengistirahatkan hati bisa membuatnya kembali semangat dan kuat. Siapa yang senantiasa berfikir, melakukan kerja pikiran misalnya perlu berlibur sehari, karena libur sehari bisa membuatnya semangat menjalankan hari-hari berikutnya. Karena itu juga mengapa Islam melarang untuk melakukan shalat dalam waktu-waktu tertentu, tidak sepanjang waktu boleh shalat. Kondisi ‘libur’ bisa menolong seseorang untuk semangat melakukan amal. Tidak ada seorangpun yang mampu bersabar dalam kondisi terus serius, karena komitmen senantiasa dalam kebenaran itu bisa terasa pahit kecuali bagi para Nabi dan Rasul.

Canda atau hiburan itu bisa menjadi obat kepenatan, karena itu hukumnya boleh, namun tidak sepatutnya memperbanyak canda dan tawa, sebagaimana minum obat juga harus sesuai takaran, tidak boleh over dosis. Maka berhibur dengan niat seperti disebutkan diatas bisa menjadi ibadah. (Ihya Ulumuddin, bab pendengaran).

Ada yang berdalil tentang keharaman canda dan gurau dengan ayat yang berbunyi: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”. (QS. Luqman: 6). Pendapat haramnya canda dan guaru berdasarkan ayat tersebut tidak benar, karena ayat tersebut tidak mencela canda dan gurau, namun mencela siapa yang menjual hiburan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT dan menghina-Nya. Maka yang dicela dalam ayat tersebut adalah maksud atau tujuan dari canda dan guaru tersebut, bukan canda dan guarunya.Al-Qur’an menggandengkan canda dan gurau dengan perniagaan –yang dilegalkan secara syari’at- dalam firman Allah SWT: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah)”. (QS. Al-Jum’ah: 11).

Keteladanan Rasulullah
Teladan terbaik dalam hal ini adalah Rasulullah saw. Meski beragam pikiran dan problematika dakwah yang beliau hadapi, beliau sesekali bercanda dan berhibur dengan benar (jujur), hidup di tengah para Sahabatnya dengan seyogiyanya, terlibat dengan mereka dalam suka, canda dan tawa sebagaimana terlibat dengan merekadalam duka dan kesedihan.

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra, beliau pernah diminta untuk menceritakan kondisi Rasulullah saw. Maka beliau mengatakan: “Aku adalah tetangga Rasulullah, aku yang menulis wahyu yang turun kepadanya, maka jika kami berbicara tentang Dunia, beliau berbicara juga dengan kami, dan jika kami berbicara tentang Akhirat, beliau berbicara juga dengan kami, dan jika kami berbicara tentang makanan, iapun berbicara dengan kami”. (HR. At-Tabrani). Diriwayatkan juga bahwa Rasulullah saw adalah orang yang paling humoris. (HR. At-Tabrani).

Suatu ketika beliau bergurau dengan seorang perempuan tua renta yang meminta didoakan agar masuk Surga. Maka Rasulullah bilang: “Wahai ibu Surga tidak akan dimasuki oleh orang tua renta”. Maka perempaun tersebut menangis karena memahami perkataan Rasulullah secara zahir (tekstual), maka Rasulullah memahamkan kepadanya bahwa memang di Surga nanti tidak ada orang tua renta, karena semuanya adalah orang-orang muda. Beliau membacakan firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan”.(QS. Al-Waqi’ah: 35-27). (HR. At-Tabrani)

Batasan canda dan hiburan
Canda dan hiburan merupakan perkara yang diperbolehkan agama. Itu karena kebutuhan fitrah manusiawi kepada rehat yang bisa meringankan beban hidup dan permasalahannya. Imam Ali ra berkata: “Istirahatkan hati dan carilah baginya hiburan hikmah, karena hati bisa lelah seperti fisik. Canda dan hiburan ini juga berperan untuk kembali menghadirkan semangat dan kekuatan agar bisa terus melanjutkan amal dan perjalanan, sebagaimana seorang yang mengistirahatkan hewan kendaraannya agar perjalananan bisa kembali dilanjutkan. Namun demikian ada beberapa syarat dan batasan canda dan hiburan yang perlu diperhatikan:
1.      Agar tidak ada dusta. Rasulullah saw bersabda: “Celaka bagi orang yang bercerita kemudian ia berdusta agar manusia tertawa, celaka baginya, celaka baginya”.(HR. Ahmad). Rasulullah jika berguyon ia selalu berkata jujur.
2.      Tidak mengandung cacian dan makian terhadap orang atau pihak lain, kecuali jika ia meridhai. Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) “.(QS. Al-Hujuraat: 11). Rasulullah saw bersabda: “Cukuplah menjadi perbuatan buruk seseorang jika ia mengejek saudaranya sesama Muslim”. (HR. Muslim)
3.      Canda yang tidak membuat takut dan panik. Abdurrahman bn Abu Ya’la berkata: “Sahabat Rasulullah menceritakan kepada kami: Ketika mereka dalam perjalanan bersama Rasulullah saw, seorang diantara mereka berdiri, sebagian Sahabat menuju bukit bersamanya dan mengagetkannya, ia menjadi panik, maka Rasulullah bersabda: tidak halal bagi seorang Muslim untuk menakuti saudaranya sesama Muslim”. (HR. Ahmad). Diriwayatkan juga dari Nu’man bin Basyir, beliau berkata: “Kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan, seorang Sahabat mengantuk di atas kendaraannya, ada seorang Sahabat yang mengeluarkan busur panah dari tempatnya, kagetlah Sahabat (yang mengantuk) tersebut, maka Rasulullah bersabda: “Tidak sepatutnya bagi seorang Muslim menakuti saudaranya”. (HR. At-Tabrani).

4.      Canda dan gurau pada tempatnya, tidak bergurau dalam situasi dan kondisi yang mengharuskan serius, tidak tertawa dalam situasi dan kondisi yang mengundang kesedihan. Setiap sikap ada situasi dan kondisi tersendiri, sebagaimanasetiap tempat ada pernyataan dan sikapnya tersendiri. Termasuk kearifan adalah meletakkan perkara pada tempatnya. Allah SWT mengecam sikap Musyrikin yang tertawa ketika mendengar lantunan Al-Qur’an, padahal seharusnya mereka menangis. “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? “.(QS. An-Najm: 59-61). Sebagaimana mereka dikecam karena menghina dan mencemooh Kaum mukminin. “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira”.(QS. Al-Muthaffifin: 29-31).

5.      Canda dan tawa sewajarnya, batasan wajar yang diterima fitrah dan hati yang sehat, canda yang bisa memberi dampak positif dansemangat beramal, serta tidak mengenyampingkan hak-hak Allah SWT dan makhluk. Islam tidak menyukai sikap berlebihan dan sikap melampaui batas dalam ibadah sekalipun, apalagi dalam hal senda gurau. Maka Rasulullah melarang dalam haditsnya: “Jangan banyak tertawa, karena banyak tawa itu bisa mematikan hati”.(HR. Ahmad). Imam Ali ra pernah berkata: “Hadirkan canda dalam pembicaraanmu, seperti engkau memberikan garam dalam makananmu”. Wallahu a’lam.

      Penulis : Ustadz H. Ahmad Yani , Lc.MA.










DPC PKS CIRACAS - Polemik dalam penyusunan APBD DKI Jakarta 2015 antara Gubernur Ahok dengan DPRD masih belum terselesaikan. Hal yang menonjol disajikan oleh media mainstream maupun media sosial adalah adanya kesalahan prosedur yang dilakukan oleh Gubernur dalam penyampaian RAPBD kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) versus tudingan adanya anggaran siluman 12 ,1 triliun dalam APBD versi DPRD. DPRD menilai Gubernur melakukan kesalahan karena menyampaikan RAPBD yang bukan hasil pembahasan bersama DPRD yang disampaikan ke Kemendagri. Padahal peraturan perundangan menyatakan bahwa RAPBD yang disampaikan haruslah yang sudah ditetapkan dan hasil pembahasan eksekutif dengan legislatif.  Bahkan Sekda mengakui kalau yang disampaikan adalah RAPBD yang diprint dari sistem E-Budgeting. Gubernur Ahok menilai bahwa RAPBD yang disampaikan bukan yang hasil pembahasan karena adanya anggaran siluman pada RAPBD tersebut.


Kemendagri telah melakukan evaluasi atas RAPBD versi Gubernur dan hasilnya sangat banyak dari draft APBD versi Gubernur tersebut yang harus diperbaiki. Bahkan perbaikan menyangkut hal-hal yang substansial, landasan hukum maupun keberpihakan anggaran terhadap kebutuhan masyarakat Jakarta. Hasil evaluasi Kemendagri juga telah disampaikan kepada DPRD untuk dipelajari. Namun media sejauh ini masih sibuk dengan kontraversi anggaran siluman dan skandal UPS dibanding hasil evaluasi Kemendagri yang sesungguhnya memunculkan temuan-temuan ketidakwajaran yang nilainya sangat besar dalam APBD yang diajukan Gubernur.
Secara garis besar hasil evaluasi Kemendagri atas APBD menunjukkan hal yang memprihatinkan yaitu (i) lemahnya kemampuan teknis penyusunan anggaran oleh eksekutif, (ii) APBD yang tidak optimistik, (iii) lemahnya pemahaman landasan hukum dalam penyusunan APBD, (iv) ketidakberpihakan APBD 2015 terhadap rakyat maupun program unggulan untuk mengatasi masalah Jakarta, dan (v) Banyaknya anggaran yang tidak sesuai dengan asas kewajaran. Kelima hal ini terlihat sangat jelas dalam begitu banyak catatan yang dibuat oleh Kemendagri terhadap RAPBD yang diajukan Gubernur sehingga banyak hal yang harus diperbaiki.
Kelemahan dalam kemampuan teknis penyusunan anggaran terlihat dari banyaknya catatan tentang kesalahan dalam penempatan nomenklatur anggaran baik dari sisi pendapatan maupun belanja. Kelemahan teknis juga terihat dari alokasi belanja yang diberikan kepada SKPD untuk kegiatan yang diluar kewenangannya. Dari sisi pendapatan misalnya terlihat kesalahan dalam menempatkan pendapatan dari retribusi ke dalam kelompok pendapatan dari pajak atau adanya kesalahan nomenklatur dalam penempatan penerimaan dari pajak penerangan jalan. Bentuk lain misalnya adalah dalam menetapkan besaran penerimaan tertentu dari pajak atau hibah atau bagi hasil yang tidak menunggu kepastian besaran penerimaan yang akan dialokasikan oleh Pemerintah Pusat arau pihak ketiga. Kelemahan teknis ini juga terlihat dengan banyaknya alokasi anggaran yang bersifat duplikasi dengan anggaran yang dialokasikan di SKPD lain seperti antara anggaran di SKPD Pendidikan dengan anggaran di SKPD Olahraga dan Pemuda. Padahal dalam hasil audit BPK atas APBD 2013, duplikasi anggaran di fungsi Pendidikan ini menjadi salah satu sorotan.
ket : Penulis: Triwisaksana (Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS) Tulisan ini dimuat di rubrik Politik.Kompasiana.com pada 16 Maret 2015








DPC PKS CIRACAS - Salah satu akhlaq yang sangat tinggi nilainya adalah bersyukur. Demikian tinggi nilainya sehingga tidaklah salah kalau kita mengatakan bahwa syukur itu mempunyai keagungan dan kedahsyatan yang mengagumkan.


Selanjutnya, bagaimanakah langkah konkret kita untuk bisa bersyukur? Berikut beberapa trik yang barangkali berguna sehingga kita bisa menjadi manusia yang gemar bersyukur:

1. Pikirkan semua yang telah kita miliki, bukan pada yang kita inginkan. Jangan pula dipikirkan apa yang belum kita miliki;
2. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki, bukan pada kekurangan yang ada pada diri kita masing-masing;
3. Sewaktu kita mendapatkan rahmat dan kenikmatan, tanyakan pada diri kita kenapa kita mendapatkan rahmat dan kenikmatan tersebut;
4. Ketika mendapatkan musibah, tanyakan pada diri kita masing-masing apa hikmah di baliknya;
5. Bayangkan segala sesuatu yang kita miliki tidak ada;
6. Upayakan untuk mengoptimalkan potensi yang ada pada diri kita;
7. Menikmati kondisi yang sekarang.

Namun perlu digarisbawahi bahwasanya kesemuanya itu ada dalam batas konteks bersyukur, bukan kepada pencapaian prestasi amal kebaikan.
Semoga berguna bagi kita semua, dan menjadikan kita makhluk yang senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang diberikan.

Penulis : Muhammad Hamdi, Psi.










DPC PKS CIRACAS -  KAJIAN KITAB DURAR AL-SULUK FI SIYASAT AL-MULUK
(Petuah-petuah Taujih Siyasi Untuk Para Raja dan Pemimpin)
Karya: Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Habib al-Mawardi
Oleh: Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, M.A.
Ketua Bidang Pembinaan Kader DPP-PKS
Petuah_08
وَلِلْكِبْرِ أَسْبَابٌ، فَمِنْ أَقْوَى أَسْبَابِهِ عُلُوُّ الْيَدِ وَنُفُوْذُ الْأَمْرِوَقِلَّةُ مُخَالَطَةِ الْأَكْفَاءِ
Kibr memiliki beberapa sebab, di antaranya yang paling kuat adalah:
• Ketinggian tangan (banyak jasa),
• Perintah atau urusan yang terlaksana dan
• Sedikit gaul dengan sebaya
وَلِلْإِعْجَابِ أَسْبَابٌ، فَمِنْ أَقْوَى أَسْبَابِهِ كَثْرَةُ مَدِيْحِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَإِطْرَاءُ الْمُتَمَلِّقِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِسْتَبْضَعُوْا الْكَذِبَ وَالنِّفَاقَ وَاسْتَصْحَبُوْا الْمَكْرَ وَالْخِدَاعَ، فَإِذَا وَجَدُوْا لِنِفَاقِهِمْ سُوْقًا، وَلِكَذِبِهِمْ تَصْدِيْقًا جَعَلُوْهُ فِيْ ذِمَمِ النَّوْكَى، فَاعْتَاضُوْا بِهِ رُتَبًا، وَعَوَّضُوْا مِنْهُ نُشْبًا، وَحَسَبُوْهُ زَيْنًا فَصَارَ شَيْنًا، وَحُكْمُ الْمَمْدُوْحِ بِكَذْبِ قَوْلِهِمْ عَلَى صِدْقِ عِلْمِهِ، وَجَعَلَ لَهُمْ طَرِيْقًا إِلَى الِاسْتِهْزَاءِ بِهِ
Ujub mempunyai beberapa sebab, diantaranya yang paling kuat adalah:
• Banyaknya pujian dari orang-orang dekat
• Sanjungan berlebihan dari para pencari muka, yang telah memperdagangkan kebohongan dan kemunafikan serta bersahabat dengan makar dan tindakan mengecoh.
Maka, jika mereka mendapati pasar bagi kemunafikannya (jika kemunafikannya laku) dan kebohongannya dibenarkan, maka mereka menjadikannya sebagai jaminan orang-orang bodoh, lalu mereka mem-barter-nya dengan kedudukan-kedudukan, menukarnya dengan harta dan kekayaan, mereka mengira hal itu adalah kebaikan, padahal sebenarnya adalah keburukan, dan hukum orang yang dipuji adalah dengan mendustakan ucapan mereka, hal ini didasarkan pada kebenaran pengetahuan atas diri sendiri, dan menjadikan untuk mereka jalan untuk menghina dengannya.
وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”اُحْثُوْا فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ”
karena inilah Rasulullah SAW bersabda: “tebarkanlah debu ke wajah para tukang memuji”.
وَقِيْلَ لِأَنُوْشَرْوَانَ: لِمَ تَتَهَاوَنُوْنَ بِالْمَدْحِ إِذَا مُدِحْتُمْ؟! قَالَ لِأَنَّنَا رَأَيْنَا مَمْدُوْحًا هُوَ بِالذَّمِّ أَحَقُّ
Ditanyakan kepada Anusyarwan (seorang Kisra Persia): Kenapa engkau menganggap remeh pujian saat engkau dipuji?! Ia mejawab: Sebab kami melihat seorang yang dipuji, padahal ia lebih berhak dicela
Ada beberapa hal yang dapat digaris bawahi dari PETUAH_08 ini, diantaranya:
1. Seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, hendaklah mampu men-siyasat-i dirinya dengan siyasat(politik) yang baik, tegas dan disiplin, kalau perlu dengan ta’dib yang “galak” manakala:
a. Ia telah memiliki atau merasa memiliki banyak jasa, telah banyak memberi sumbangan, berpartisipasi dalam berbagai kebaikan.
b. Setiap perintah atau titahnya dilaksanakan oleh orang lain, pembantu, staff, bawahan dan semacamnya.
Sebab dua hal ini dapat mendorong dirinya untuk menjadi takabbur dan tumbuh dalam hatinya rasa al-kibr – na’udzubillah min dzalik –
2. Jika ada kekhawatiran tentang akan tumbuhnya sifat takabbur dan bersemayamnya bibit al-kibr tersebut, hendaklah ia banyak bergaul dan banyak membaca tentang prestasi-prestasi besar para raja, atau pemimpin, atau politisi lain, lalu membandingkannya dengan dirinya, agar dirinya mengetahui bahwa apa yang dimilikinya belumlah seberapa.
3. Juga, seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi harus bersikap penuh kewaspadaan dari pujian dan sanjungan, baik pujian atau sanjungan publik, maupun pujian dan sanjungan “orang-orang” dekat, sebab, sanjungan dan pujian itu bisa jadi keluar dari:
a. Para pencari muka (al-mutamalliqun).
b. Orang-orang yang menyimpan makar dan menyembunyikan tipuan (al-khida’).
c. Orang-orang yang ingin mendapatkan materi, harta, dan kedudukan dari pujian dan sanjungannya.
Yang untuk tujuan-tujuan ini, mereka sanggup berbuat nifaq (kemunafikan), berani berkata dusta dan semacamnya.
4. Agar seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi tidak terjebak kepada keinginan para pencari muka dan penjilat ini, maka, hendaknya pujian mereka menjadikan dirinya introspeksi dan mawas diri dengan mengatakan:
a. “Saya lebih tahu tentang diri saya daripada kalian wahai para pencari muka dan penjilat”.
b. “Sebenarnya saya lebih berhak dicela daripada dipuji”.
5. Dibenarkan juga, jika keadaan dan situasinya menuntut, seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, membalas pujian mereka itu dengan meremehkan mereka, bahkan sampai ke tingkat menebarkan debu ke muka para penjilat tersebut jika kemaslahatan menuntut demikian, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW.
6. Semua ini mesti dilakukan oleh seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi, agar ia tidak terjebak dan terjerumus kepada ‘ujub
7. Kemestian seorang raja, atau pemimpin, atau pejabat, atau politisi untuk waspada terhadap kemungkinan al-kibr dan ‘ujub ini adalah karena keduanya mempunyai dampak-dampak negatif, baik menurut sudut pandang agama, maupun menurut sudut pandang siyasah atau politik (baca kembali PETUAH_06)
*)SERIAL SEBELUMNYA:







DPC PKS CIRACAS - Islam adalah ajaran yang komprehensif dan integral. Ajaran yang lengkap dan terpadu. Setiap Muslim dituntut untuk menjalankan Islam secara lengkap dan terpadu dalam kehidupannya. Islam mencakup akidah, fikih dan akhlak. Akidah membahas tentang keimanan dan keyakinan seorang Muslim. Fikih membahas tentang tehnis dan mekanisme dalam beribadah. Akhlak membahas prilaku dan sikap seorang Muslim baik kepada dirinya, Tuhannya, sesama manusia juga makhluk. Cakupan akhlak sangat luas, diantara sisi-sisinya misalnya akhlak dalam politik, dalam usaha, dalam sosial masyarakat, dan sebagainya. Tidak boleh ada ketimpangan dalam diri seorang Muslim dalam tiga sisi ajaran Islam tersebut. Sisi akidah, fikih dan akhlak Muslim sepatutnya menjadi satu kesatuan yang terintegrasi dalam bingkai Islam. Allah SWT. berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Al-Baqarah: 208).

Sebagaimana Allah SWT. mengecam para Ahli Kitab yang bersikap memilah milih ajaran agama, mengimani sebagian ajaran dan mengkufuri sebagian yang lain, mempraktekkan sebagian dan membuang sebagian.“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (Al-Baqarah: 85).


Kedudukan Akhlak
Akhlak sebagai salah satu ajaran inti dalam Islam mendapat perhatian sangat besar. Akhlak merupakan sisi yang mempengaruhi penilaian seorang di mata Allah SWT. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kalian”. (HR. Muslim). Dalam Hadits lain disebutkan: “Tidak ada perkara yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti dari akhlak yang baik”. (HR. Tirmidzi).“Sesungguhnya diantara orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempatnya di Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya”. Akhlak yang baik mampu mengangkat dan memuliakan derajat seorang Muslim. “Sesungguhnya seorang Mukmin bisa meraih derajat ahli puasa dan qiyamullail dengan akhlak yang baik. (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Begitu besar perhatian Islam terhadap ajaran akhlak. Seakan pengajaran akhlak menjadi misi yang sangat dijunjungtinggi Rasul Saw dalam berdakwah. Betapa tidak akhlak mewakili eksterior (tampilan luar) seorang Muslim, yang pada selanjutnya mempengaruhi kondisi dan nasibnya kemudian di Akhirat. Tidak sebatas ini, bahkan akhlak mempengaruhi jatuh bangunnya sebuah komunitas, bahkan Umat. Sebagaimana syair yang dilantunkan oleh penyair ternama Syauqi: “Satu Umat dipengaruhi dengan akhlaknya, jika akhlak (mulia) pudar maka Umat itu juga akan punah”.

Iman dan Akhlak
Iman berarti attashdiiqyaitu membenarkan dan meyakini. Berarti membenarkan dan meyakini ajaran Islam dalam hati, membenarkan dengan lisan juga mengamalkan dalam perbuatan (ahlu sunah wal jama’ah). Sedangkan akhlak dari kata alkhulq yang berarti kebiasaan, watak dan perangai.

Hubungan antara iman dan akhlak sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Iman dan akhlak satu paket. Maka, tidak bisa dipercaya bila seorang mengaku baik iman namun akhlak dan perbuatannya jauh dari nilai keimanan.Begitu pula seorang akan sulit menjaga kebaikan akhlak dan perbuatannya dalam segala kondisi, ketika keimanan tidak bersemayam lekat dalam jiwanya.Siapa yang memiliki perangai dan akhlak yang buruk maka itu pertanda buruknya keimanan dan keislaman dalam dirinya. Bahkan kaitan atau hubungan ini, terlihat jelas dalam definisi iman -yang notabene dipahami sebagai kerja hati-yang juga mencakup amal lisan dan badan.

Dari sini juga dipahami bahwa, untuk merubah atau menghilangkan akhlak dan perilaku yang tercela perlu dibenahi juga sisi keimanan dan keislaman dalam jiwa. Karena  perilaku dan akhlak merupakan ekspresi dan sesuatu yang lahir dari apa yang ada dalam jiwa dan hati. Sebagaimana iman adalah energi yang mendorong seseorang berakhlak baik, menghiasi dirinya dengan amal saleh dan menjaganya dari perkara yang tidak terpuji, bagitu pula hawa nafsu bisa mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan sebaliknya.Maka, jika keimanan mendominasi hati dan jiwa seseorang sehingga ia mengalahkan dorongan hawa nafsu, dalam kondisi ini, akhlak dan perbuatan baik adalah buah yang lahir darinya. Namun sebaliknya, jika hawa nafsu mendominasi dan mengalahkan keimanan, maka ia akan melahirkan perbuatan dan akhlak tercela.

Dalam berbagai ayat Allah SWT mengawali perintah untuk berakhlak baik dengan panggilan keimanan. Ketika memerintah untuk berlaku adil, Allah SWT menyeru dengan seruan keimanan: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Maidah: 8).Dalam ayat lain disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At Taubah: 119).

Akhlak menjadi bisa barometer keimanan seseorang. Ibadah-ibadah yang disyariatkan sebagai sarana untuk mengkondisikan hati dan meningkatkan keimanan, bisa diukur baik atau tidaknya pelaksanaan ibadah tersebut, diterima atau tidaknya ibadah tersebut dari sisi akhlak dan perilaku. Seringkali dalam berbagai hadits Rasulullah Saw. mengangkat pemahaman ini. Bagaimana Rasul Saw. mengisyaratkan ukuran diterima atau tidaknya shalat seorang dari perilakunya. Diriwayatkan dari Ali bin Ma’bad, Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang sholatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka ia hanya bertambah jauh dari Allah.”

Bahwa ibadah sholat yang baik adalah ketika ia mampu mewarnai perilaku dan perbuatan kita. Baik perbuatan yang hanya berdampak pada diri sendiri maupun orang lain atau sosial. Shalat yang mampu mengkondisikan jiwa dan keimanan seseorang bisa dinilai dari perbuatan dan akhlaknya. Begitu pula tentang ibadah puasa. Rasulullah Saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah: “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah SWT. tidak berkepentingan atas puasanya dari makanan dan minuman”. (HR. Tirmidzi).

Begitulah Secara umum hal ini diisyaratkan Rasulullah Saw, dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw: “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” para shahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak ber-dirham dan ber-perhiasan.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa pahala shalat, shiyam dan zakat, tetapi dia juga mencela si ini, menuduh si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu, serta memukul si ini-itu, lalu si ini diberi kebaikan-kebaikannya, dan si itu diberi kebaikan-kebaikannya, lalu jika kebaikan-kebaikannya habis sementara semua belum selesai, maka kesalahan-kesalahan mereka diberikan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Dan secara tegas Rasulullah Saw menjelaskan tentang kemestian akhlak baik sebagai tanda keimanan seseorang. Begitu sebaliknya, siapa yang berakhlak dan prilaku buruk pertanda tidak ada iman seseorang: “Demi Allah tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman! Ditanya: Siapa itu wahai Rasul? Orang yang tidak menjadikan tetangganya merasa aman akibat perilaku buruknya”.(HR. Bukhari).Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufiq dan petunjuk untuk mampu menyemai keimanan dalam jiwa, untuk sleanjutnya ia mewarnai dan menghiasi akhlak diri. Wallahu a’lam.

Penulis : Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA