Select Menu

Kabar Ciracas

PKS Indonesia

PKS Unik

Qiyadah

Parenting

Pemuda

Agenda

Suara Kader

Video









DPC PKS CIRACAS - Dalam suatu ketika kita akan menemukan anak-anak bercerita, dengarkan saja misalnya seperti ini. “nah pas aku keluar stasiun, terus aku lihat ada kucing yah. Kucingnya lewat depan aku. Terus aku naik Bajaj sama eyang” ujar Gaza anak saya ditengah ceritanya tentang perjalanan dari Bogor Ke Bandung.
“Saya suka main layangan kak, suka ngejar layangan sama teman-teman”  cerita salah seorang anak “korban emon” ketika saya mewawancarainya.

Apa sih pentingnya melihat kucing di jalan dalam cerita perjalanan ke Bandung? Toh setiap hari juga melihat kucing. Apa sih pentingnya cerita ”ngejar layangan” dalam wawancara kasus kekerasan seksual?

Ayah bunda sering mengalami hal itu? Banyak hal-hal (nggak) penting dalam cerita anak-anak? Apa yang ayah bunda rasakan? Gemes ya? Iiih ngapain sih hal remeh seperti itu diceritain? Ceritain tuh yang seru-seru doong ! yang jarang-jarang ada! Masa segala liat kucing aja diceritain?

Dalam dunia Forensic Investigation ada teknik yang disebut Cognitive Interview atau wawancara kognitif. Yaitu wawancara saksi dengan meminta dia menceritakan apapun yang dia ingat tentang kejadian, termasuk hal-hal yang dianggap tak penting dan tidak relevan. Kenapa? Karena hal-hal yang dianggap tak penting dan tak relevan ini akan memanggil memori-memori lainnya. Hal-hal itu yang akan “menyambungkan” ceritanya menjadi lengkap.

Cerita suka main layang-layang oleh salah satu anak korban Emon, membawa saya ke dalam cerita bagaimana ia pertama kali bertemu Emon dan bagaimana Emon mendekati korbannya. Cerita kucing di stasiun membuat Gaza bisa menceritakan lengkap perjalanannya dari Bogor ke Bandung.

Teknik Ini bisa diterapkan sehari-hari dengan anak kita. Ketika ia bercerita tentang pengalamannya, biarkan ia ceritakan semuanya dengan tuntas. Termasuk hal-hal remeh yang kita anggap tak penting. Jika ada sebuah hal yang masuk dalam ceritanya, berarti ia menganggap hal itu penting. Ingat, yang kita anggap tidak penting, bisa jadi adalah hal penting bagi anak.

Minta ia bercerita dari sebuah titik awal, misal cerita Gaza dari Bogor ke Bandung dimulai dari keluar rumah eyang di Bogor. Setelah ia bercerita semuanya, kita bisa meminta ia bercerita dengan urutan terbalik. Nanti akan mucul detail-detail baru yang di cerita awal belum muncul. Kita bisa juga menggali lebih dalam dari poin-poin yang dia ceritakan, misal di stasiun ada apa aja? Apa yang dilakukan di kereta? Bajajnya warna apa? Bunyinya bagaimana?

Apresiasi semua ceritanya dengan mendengarkan tanpa memotong atau menyanggah, timpali dengan pernyataan-pernyataan yang menguatkan seperti “wah seruu”, “wiih asyiik” dll. Jika perlu, praktekan ceritanya dengan gerakan. dan yang perlu diingat, ini bukanlah interogasi. Ini adalah cerita santai ortu dengan anak. asyik ya?

Teknik ini, jika sering dilakukan akan melatih kemampuan anak dalam mengingat dan berpikir runut. Tentu juga akan meningkatkan kedekatan hubungan orang tua dengan anak.

Selamat bercerita ayah dan bunda. Selamat bersenang-senang :)

eh ssst...konon katanya, cognitive interview adalah salah satu teknik yang dipakai CIA dalam melakukan investigasi forensik :)

Sumber : twitter Pemerhati Anak @K_IDZma







DPC PKS CIRACAS - Konsep Active Citizen (warga yang senantiasa aktif dalam masyarakat) bisa dijadikan salah satu alternatif dalam pemecahan masalah sosial kemasyarakatan di Indonesia. Pendekatan konsep ini dapat dimulai di lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Demikian dipaparkan Ustadz Muhammad Hamdi, Psi, pembina Rumah Keluarga Indonesia (RKI) di hadapan puluhan keluarga besar warga Cibubur, Jakarta Timur pada Ahad (28/4) kemarin.

“Menjadi pengurus lingkungan, aktif dalam majelis ta’lim, atau ikut membantu penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung kehidupan masyarakat setempat adalah bentuk contoh aktivitas kecil yang dapat dilakukan para pelaku active citizen,” jelas Hamdi, yang juga merupakan dosen di Universitas Indonesia.

Konsep ini, menurut Muhammad Hamdi, sebenarnya merupakan perwujudan dari apa yang sudah diajarkan Rasulullah SAW ratusan abad silam. Seperti dikutip dalam haditsnya “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Ini adalah salah satu bentuk ajaran kepada seluruh lapisan masyarakat yang semestinya ikut peduli dengan permasalahan sosial yang ada. Untuk itu, guna menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial, seyogyanya mulai dibentuk sejak dini di dalam keluarga.

Di dalam acara silaturahmi keluarga besar Cibubur, Jakarta Timur yang mengambil tajuk “Cinta Kerja dan Harmoni dalam Keluarga” tersebut, Muhammad Hamdi mengingatkan dalam memberikan kontribusinya kepada masyarakat untuk senantiasa memelihara niat yang tulus dan hanya berharap ridho dari Allah SWT. (yr)






DPC PKS CIRACAS - Permasalahan di masa remaja memang selalu kompleks, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Masa remaja adalah masa yang sangat tepat untuk membangun masa depannya. Kegagalan membangun masa depan pada masa remaja akan berakibat fatal dalam mengarungi masa dewasanya.

Menurut M. Al Ghazali (2007), ada beberapa tipe remaja dalam menghadapi masa depannya. Ada yang menjalani kehidupan dengan tekad kuat, penuh optimisme dan motivasi, tidak tunduk dan tidak bisa dikendalikan oleh keadaan disekelilingnya. Sebaliknya, ada juga yang seringkali mengeluh, pesimisme, dan selalu menyerah dengan keadaan disekitarnya.

Orang yang memiliki mental yang positif, tekad yang kuat, optimis, dan tidak pernah terperdaya dengan lingkungan sekitarnya, serta memiliki keteguhan dalam bersikap adalah orang yang mampu menghadapi perubahan zaman dalam kondisi apapun.

Guna mengatasi permasalahan yang dihadapi para remaja tersebut, Dinas Sosial Bina Remaja Bambu Apus, Jakarta Timur menggelar seminar pada Rabu (8/5) lalu dengan mengusung tema “Mewujudkan harapan masa depan remaja melalui perilaku positif”. Mengundang Muhammad Hamdi, Psi, psikolog asal Universitas Indonesia, seminar dihadiri sedikitnya 150 remaja yang berasal dari berbagai daerah di Jakarta.

Dalam paparannya, Muhammad Hamdi P.Si mengingatkan pentingnya untuk terus memupuk semangat karena hal ini merupakan salah satu unsur untuk menciptakan mental yang positif. Menurutnya, orang yang tidak memiliki semangat disebabkan karena orang tersebut malas untuk bergerak . Untuk itu, ujarnya, maka hiduplah menjadi orang yang dinamis agar selalu bersemangat. “Ubahlah pola gerak gerik kita agar senantiasa termotivasi dan semangat menjalani hidup secara dinamis,” kata Hamdi yang juga merupakan pimpinan Yayasan Bina Tunas Muda.

Dengan gayanya yang khas, ia juga menyampaikan definisi sukses kepada peserta yang antusias mengikuti acara tersebut. Kesuksesan, menurutnya, harus berani mengambil resiko dan harus keluar dari zona nyaman. Guna mencapai kesuksesan, juga tidak harus mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini pernah dicontohkannya, telah dialami oleh trainer dan motivator terkenal, Andri Wongso.

Di samping itu, kesuksesan yang bisa dicapai dengan cara yang instan. Semua harus melalui kerja keras. Seperti dicontohkannya, band legendaris The Beatles yang harus menjadi pengamen jalanan selama 10 tahun. Demikian pula salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates yang selama 10 tahun tekun di depan komputer. Melalui serangkaian kerja keras, semangat dan motivasi tinggi, barulah mereka meraih sukses dan mejadi terkenal di seluruh dunia.

Sumber : http://www.kompasiana.com/banghamdi





DPC PKS CIRACAS - Sebagus apapun service yang dilakukan belum tentu bebas sama sekali dari komplain. Realita ini yang harus diterima dengan penuh kesadaran. Yang diperlukan adalah bagaimana dapat menangani komplain tersebut dengan efektif.

Artinya, semua pihak memperoleh sesuatu sesuai dengan harapan. Bila terjadi komplain akan berakibat fatal atau sangat merugikan bila ditangani dengan kurang baik.

Demikian diungkapkan trainer Muhammad Hamdi, S.Psi. dalam pelatihan mengenai “Handling Complaint” yang dihelat salah satu perusahaan jasa terbesar di Indonesia belum lama ini.

Dihadiri sedikitnya seratus karyawan yang merupakan ujung tombak perusahaan di bidang pelayanan perusahaan tersebut, Muhammad Hamdi menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan dalam penanganan komplain.

Faktor tersebut antara lain, adanya anggapan oleh kebanyakan pelanggan adalah pembohong dan curang, terlalu mengikuti aturan, tidak memiliki sense of urgency, enggan meminta maaf, merasa tidak perlu menjelaskan akar permasalahan, dan juga adanya anggapan bahwa komplain pelanggan adalah menyusahkan.

Guna menghadapi kondisi seperti itu, Hamdi memberikan tips yang dapat cukup terbukti jitu jika diterapkan dengan tepat. “Komunikasikan secara diplomatis dan taktis sewaktu kita akan mengatakan tidak dan sewaktu berbicara mengenai kebijakan perusahaan, jangan katakan bahwa pelanggan yang salah, tunjukkan empati terhadap apa yang dikatakan pelanggan,” jelas Hamdi, yang juga merupakan pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Selain itu, seperti dijelaskannya, “Segera temukan cara untuk mengatakan ‘YA’ terhadap permintaan pelanggan, berikan semacam token (kupon, voucher) sebagai wujud dari permintaan maaf, ucapkan terima kasih terhadap umpan balik dari mereka.”

Menurut Hamdi, dengan mendengarkan keluhan mereka dengan penuh perhatian dan menyegerakan meminta maaf dapat juga meminimalisir munculnya dampak negatif lainnya yang mungkin timbul.

Komplain bisa juga berarti bahwa pelanggan masih setia. Dengan adanya komplain justru perusahaan dapat melakukan introspeksi dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.

Dengan gayanya yang khas, pria murah senyum dan penuh enerjik yang tinggal di bilangan Ciracas, Jakarta Timur ini membuat suasana sangat cair dan sangat hidup meskipun pelatihan dilakukan cukup lama.

Sumber : http://www.kompasiana.com/banghamdi